Satnite Story : Tangisan Meja Makan





Pelangi datang lebih awal dari waktu biasanya. Entah karena tangisan hujanku yang sudah mengering yang menyebabkan itu terjadi. Atau malah, lukisan kebahagian dari dalam diriku yang datang  jauh lebih awal.
***
Pagi yang cerah dan penuh semangat. Bagaimana tidak, aku disambut hangat oleh kedua orang tua ku. Kecupan hangat berlabuh di pipi kiri dan kanan ku. Lalu, kami bergegas menuju meja makan. Sudah tersedia tiga buah piring, sendok, garpu, dan juga pisau. Aku juga melihat tumpukan roti tawar serta beberapa selai. Kami memang selalu melakukan kegiatan ini di pagi hari.
Ada banyak pembicaraan yang  kami bincangkan di meja makan ini. Khususnya perkembangan sekolah ku. Ada banyak pula nasehat dari mereka yang aku dapatkan. Aku sungguh bahagia dengan apa yang aku punya sekarang. Setelah kami selesai sarapan, ayah dan ibu mengantarkan ku ke sekolah.
Di mobil kami pun mengahabiskan berbincang – bincang tentang banyak hal. Terutama rencana kami untuk berlibur. Karena tidak lama lagi libur panjang akan tiba. Ada banyak sekali pilihan untuk berlibur yang ditawarkan oleh mereka. Liburan kemarin kami bertamasya ke pantai bali. Aku tidak bisa melupakannya sampai sekarang.
Tiba di gerbang sekolah, aku turun dan mereka pun turun. Sebelum aku masuk kelas, ayah ku selalu memberikan aku nasihat kehidupan. Semenjak aku sekolah dasar hingga saat ini, aku susun rapi dalam diary ku. Entah sihir apa yang telah ayah sisipkan di kata – katanya. Namun, nasehat itulah yang membuat aku tetap bersemangat dalam menjalani hari – hari di sekolah.
***
Pelajaran pagi ini adalah Bahasa Indonesia. Kami ditugaskan untuk membuat suatu artikel tentang sosok yang mempengaruhi hidup kami. Memang usia remaja menengah pertama perlu memahami arti sebuah kehidupan. Dengan kita mengetahui idola, maka akan memahami bagaimana seharusnya bertindak.
Aku akan menuliskan tentang ayah dan ibu ku. Disana aku menuliskan banyak hal mengenai kedua orang tua ku. Aku menceritakan banyak hal, terutama soal ayah. Memang benar, aku cenderung lebih dekat dengan ayah ku. Karena banyak waktu yang kalian habiskan bersama ayah.
***
Saat malam hari kami menghabiskan waktu di ruang keluarga. Ruang keluarga yang dilengkapi dengan karpet tebal dengan motif panda. Tidak lupa sofa hitam berukuran sedang terletak persis di depan televisi layar datar.
Aku menceritakan bahwa ketika disekolah mendapatkan tugas untuk membuat artikel tentang idola. Aku bilang kepada mereka, bahwa mereka adalah idola ku. dan aku menekankan kepada ayah ku. Aku menceritakan banyak hal tentangnya.
“ Ayah bangga dengan mu, nak “
“ Terima Kasih, Ayah. “
Kami menghabiskan malam yang cerah ini dengan canda gurau. Serta menonton serial televisi. Jam tidur pun tiba, aku dituntun untuk masuk kamar tidur. Karena mereka tidak ingin aku bangun terlambat. Dua kecupan di kening ku menghantarkan aku kedalam dunia mimpi.
***
Saat libur panjang
Akhirnya kami memutuskan untuk pergi ke pulau onrust. Banyak sejarah yang tertinggal di sana sehingga menjadi alasan kami untuk ke sana. Memang ayah dan aku sangat senang akan sejarah. Menjelang tidur pun aku berdiskusi tentang sejarah dengan ayah.
Perjalanan ditempuh menggunakan perahu yang sudah kami sewa sebelumnya. Lama perjalanan untuk mencapai ke sana adalah 3 Jam dari Muara Angke. Sepanjang mata memandang hanya lautan yang aku lihat. Tidak sedikit juga ku lihat para penambak sedang memanen hasil tambakan mereka. Memang saat ini sedang musim panen. Yang di tambak beraneka ragam. Salah satunya udang lobster. Penjelasan sang pengemudi kapal yang juga seorang penambak.
***
Kami disambut dengan prastasi besar berisikan sejarah pulau onsrust ini. Sepanjang jalan ku temui pohon – pohon yang besar. Teduh rasanya, begitu pula angin laut berhembus membuat kedamaian hati. Kami mencari lahan yang kosong untuk mendirikan tenda.  Kami berencana akan bermalam disini.
Tenda berukuran yang cukup untuk 3 orang. Berwarna orange dengan garis hitam disetiap sisinya. Serta pada bagian atap terdapat dua lapisan yang bisa dibuka salah satu lapisannya. Bagian luar terdapat lapisan transparant sehingga dapat secara langsung menampakan keindahan langit.
Cuaca cerah, angin yang berhembus dengan sejuknya menciptakan suasana kedamaian. Sudah tersedia perlengkapan masak saat traveling. Dan juga bahan – bahan yang akan dimasak. Memang kami memiliki lengkap peralata masak untuk traveling. Karena hampir setiap liburan kami agendakan untuk traveling.
Aku mendapat tugas untuk mengambil 6 botol air mineral berisikan 1,5 liter. Air ini untuk disuling menjadi air tawar. Kami mempunyai alatnya untuk menyuling air laut. Air yang sudah disuling akan direbus untuk membuat air panas. Dan juga memasak nasi. Satu buah kopi susu dan juga cokelat panas sudah disajikan ibu ku.
Menikmati segelas cokelat panas di bibir pantai dengan ditemani ayah menambah kenikmatan tersendiri. Saat itu juga ayah bercerita tentang pulau onrust ini. Dahulu pulau ini dijadikan singgahan para jamaah haji indonesia. Memang aku melihat banyak arsitektur peninggalannya ketika berjalan menuju bibir pantai ini.
Aku mencium harum ikan bakar hasil tangkapan ayah ketika di perahu tadi. Aku dan ayah bergegas menuju sumber bau ini. Ibu ku memang pandai masak, dia tau apa yang aku dan ayah suka. Sudah tersajikan nasi putih hangat, ikan kue bakar, sayur cah kangkung. Menikmati masakan ibu ditemani hembusan angin laut yang mengugah untuk selera makan. Rasa teh melati hangat melebur lidah dan dahaga setelah makan. Penuh rasanya perut ini, dan energi ini serasa pulih kembali.
Aku dan ayah memutuskan berjalan mengelilingi pulau onsrust setelah makan. Dan ibu ku menikmati hembusan ditemani sebuah buku yang sedang dia baca dikursi santai. Beruntung sekali cuaca sedang cerah. Karena jika hujan tidak akan seindah sekarang.
***
Saat matahari terbenam. Kami merapat kebibir pantai. Ada banyak pengunjung pulau yang juga menikmati keindahan ciptaan tuhan ini. Ini akan menjadi objek selanjutnya setelah seharian tadi aku dan ayah hunting banyak tentang pulau ini. Matahari terbenam akan menjadi objek yang terindah.
Malam tiba dan sang rembulan menampakan dirinya. Lalu kami beserta pengunjung yang lain membuat sebuah api unggun yang besar. Kami akan memasak bersama hasil tangkapan kami. Ada banyak macam jenis ikan, dan ada juga udang serta cumi. Pengunjung pun terbantu dengan adanya peralatan memasak kami.
Bernyanyi, melawak serta menari kami habiskan untuk malam ini. Semua wajah riang terlukiskan disetiap pengunjung. Begitu juga kami, kami sangat menikmati keakraban ini. Walau memang kami baru saling mengenal satu sama lain. Tetapi semuanya bahagia dan tidak canggung untuk mengekspresikan kebahagiannya.
Malam semakin larut dan kami memadamkan api unggun yang dibuat. Serta mengumpulkan sampah yang berserakan. Kemudian semua kembali ke tenda masing masing.
***
Sang mentari sudah menampakan diri di ufuk timur. Kami habiskan waktu pagi dengan menikmati pagelaran seni tuhan di pagi hari. Kemudian, menikmati hembusan angin pagi menusuk lembut sampai ke dalam tulang.
Kami mempersiapkan untuk segera meninggalkan pulau yang indah ini. Sarapan dengan bubur buatan ibu ku. Kemudian merapikan tenda dan peralatan lainnya. Bergegas ke perahu yang setia menunggu kami.
Dipertengahan pulau ombak beriak dengan kencangnya. Perahu kami terombang ambing. Aku lihat keseliling memang tidak ada yang berlaya maupun menambak. Ane memang kenapa ini terjadi.
DOOM !!!
Ombak begitu keras menghantam perahu kami. Membuat perahu kami oleng ke kiri. Kemudian kondisi di dalam perahu kacau. Ku dapati ayah sudah tidak lagi ditempat duduknya. Mata ku sibuk mencari kesekitar perahu.
AYAAAAH !!!. aku teriak dengan kerasnya melihat ayah ku tenggalam dan terbawa ombak yang liar. Dada ku sesak, mata ku hilang arah, air mata pun deras membasahi pipi.
***
AYAAAH !!!
Aku mendapati diri ku sudah berada di dalam kamar. Lagi – lagi aku bermimpi dengan kenangan indah ku masa kecil. Kenangan bersama ayah tercinta. Kenangan yang sampai saat ini aku tidak bisa berhenti untuk memimpikannya.

Aku memang tidak percaya dengan apa yang sudah ayah lakukan kepada ibu. Mengapa ayah sangat beda sekali ketika aku kecil. Hampir 3 tahun aku menjadi saksi pertengkaran mereka. Tidak kenal waktu dan tidak tahu apa penyebabnya.
Kuping ku sudah terbiasa mendengar kata – kata kasar yang diucapkan mereka. Peralatan rumah menjadi senjata. Kemudian, setelah bertengkar ayah menghilang entah kemana. Suatu waktu pulang dan berkelahi. Ini terus berulang di dalam keluarga ku.
Sampai pada saatnya mereka memutuskan untuk bercerai. Semua kebisingan didalam rumah hilang. Namun aku merasa kehilangan sesosok yang ketika kecil selalu berdiskusi tentang sejarah. Lalu, tidak ada lagi yang aku ajak bicara tentang kerusuhan tahun 98.
***
Semenjak perceraian, aku lebih sering menyendiri dikamar. Aku juga lebih sering pergi seorang diri. Semua ku lakukan sendiri, apapun itu. Aku berbicara seperlunya, tak ada yang berkomentar banyak mengenai ini. Memang aku lebih memutuskan untuk menyimpannya semua sendiri.
Ada banyak yang mencoba untuk menghibur. Aku hanya melempar senyum kecut, tak lebih. Ada yang mencoba untuk bertanya tentang diri ku. aku menjawab jika aku baik baik saja dan tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Perubahan ini terlihat ane di mata mereka. Karena memang aku dikenal orang yang periang.
***
Aku tidak membenci ayah maupun ibu dengan kejadian yang sudah terjadi. Tetapi aku sangat kecewa kenapa itu menjadi jalan penyelesaian masalah. Kenapa aku tidak diikutsertakan dalam masalah ini. Bukankah ini juga menjadi tanggung jawab aku juga.
Aku selalu berdoa untuk kesehatan ayah disana. Aku selalu berdoa agar terjadi keajaiban tuhan. Keajaiban yang bisa mempersatukan kami kembali. Aku selalu melihat foto kenangan kami sebelum tidur. Air mata dengan sendirinya membasahi pipi ini.
Doa aku setiap malam adalah agar kami bisa dipertemukan kembali menjadi ikatan keluarga walaupun itu memang mustahil. Aku juga berdoa agar aku menjadi korban yang terakhir dalam perceraian.
--- TAMAT ---
Satnite Story : Tangisan Meja Makan Satnite Story : Tangisan Meja Makan Reviewed by Riski Saputra on 8:51:00 PM Rating: 5

No comments:

Please Comment This Article

Powered by Blogger.