Romantika Bung Karno
Siapa yang tidak kenal dengan bung karno. Beliau adalah tokoh
proklamator indonesia. Memiliki tubuh tegap, gagah dan karismatik. Ternyata
selain cerdas berdiplomasi. Ternyata pahlawan kita yang satu ini jago sekali
dalam membuat wanita terbuai dalam rayuannya. Terbukti bung karno memiliki
sembilan istri. Tidak tanggung – tanggung memang. Bahkan istri beliau bukan
hanya dari indonesia. Lalu siapa sajakah wanita yang beruntung bisa mendampingi
sang pahlawan proklamator ini ?
Oetari Tjokroaminoto
“Lak, tahukah engkau bakal istriku
kelak? …
orangnya tidak jauh dari sini, kau
ingin tau?
boleh..Orangnya dekat sini kau tak
usah
beranjak, karena orangnya ada di
sebelahku”
Oetari Tjokroaminoto adalah nama pertama yang menarik hati
bung karno. Anak dari H.O.S Tjokroaminoto ini adalah istri pertama bung karno.
Bung karno menikahinya saat dia masih berumur 16 tahun dan bung karno berumur
20 tahun. Ketika itu bung karno sedang menimba ilmu dan tinggal di rumah H.O.S
Tjokroaminoto yang merupakan kawan ayahnya. Mungkin karena seringnya bertemu
bung karno menikahinya. Namun pernikahannya tidaklah bertahan lama, hanya
berumur jagung.
Inggit Ganarsih
“Aku kembali ke Bandung..dan
kepada
tjintaku yang sesungguhnya.”
Sebelum
bercerai dengan Oetari Tjokroaminoto. Bung karno dan istrinya pindah ke
bandung. Karena bung karno sedang menempuh sekolah lanjutan di THB (Technische
Hoogeschoolte Bandoeng - sekarang ITB –red). Ketika bung karno di bandung
tempat pertama yang dituju adalah rumah Haji Sanoesi yang merupakan kawan
mertuanya H.O.S Tjokroaminoto. Disana bung karno bertemu inggit yang merupakan
istri dari Haji Sanoesi. Singkat cerita setelah Sukarno menceraikan dan
mengantarkan pulang Oetari ke rumah orangtuanya di surabaya dan Haji Sanusi menceraikan
inggit, bung karno langsung mempersunting inggit pada tahun 1923.
Bung
karno pada waktu itu berumur 22 tahun dan inggit berumur 36 tahun. Inggit
adalah wanita yang tangguh. Dialah yang menopang kehidupan keluarganya dengan
berjualan jamu dan bedak. Ketika bung karno berkecimpung di dunia politik. Inggitlah
yang membiayai sekolah bung karno ketika di THB dan menyediakan makanan
keperluan mereka.
Pada
saat Sukarno masuk penjara, Inggit berjalan kaki dari rumahnya ke penjara Sukamiskin
setiap hari untuk mengantarkan makanan. Bahkan ketika Sukarno hampir bertekuk
lutut dan menyerah, Inggitlah yang menopang Sukarno untuk kembali berdiri
diatas kakinya. Namun, Titik balik kehidupan Inggit terjadi ketika Sukarno
diasingkan di Bengkulu. Sukarno yang jatuh cinta kepada Fatmawati membuat Inggit
mengambil keputusan untuk kembali ke Bandung karena beliau berpegang teguh pada
prinsipnya untuk tidak dimadu. Sukarno bercerai dengan istri yang menjadi
inspirasi & penopangnya selama 20 tahun masa-masa sulit sebelum kemerdekaan
Indonesia diproklamasikan.
Fatmawati
“ Engkau menjadi terang dimataku.
Kau
yang akan memungkinkan aku
melanjutkan
perdjuanganku yang maha dahsyat.”
Fatmawati
merupakan putri dari tokoh Muhammadiyah setempat, Hasan Din. Pada awal
pertemuannya Sukarno masih berstatus sebagai suami dari Inggit Garnasih yang mengikuti
Sukarno ke pembuangannya di Bengkulu. Kedekatan antara Inggit dan Fatmawati membuat
Fatmawati ditawari untuk tinggal bersama dengan keluarganya. Dari situlah
kedekatan antara Sukarno dan Fatmawati semakin berkembang dan menimbulkan percikan
cinta diantara mereka. Inggit yang tak bersedia untuk dipoligami dengan terpaksa
diceraikan oleh Sukarno dan kembali ke Bandung.
Tahun
1943, Sukarno yang sudah berkepala empat menikahi Fatmawati yang baru berusia 20
tahun. Dari pernikahan ini jugalah akhirnya Sukarno mendapatkan buah hati pertamanya,
karena dari dua perkawinan sebelumnya, Sukarno tidak memiliki anak kandung
(Sukarno dan Inggit mengangkat anak, Ratna Djuami dan Kartika). Guntur Sukarno lahir
tahun 1944, satu tahun sebelum kemerdekaan Indonesia tercapai. Tahun 1945 Perang
Dunia sudah hampir mencapai akhirnya, kekalahan Jepang di berbagai medan pertempuran
semakin mengobarkan semangat Indonesia untuk mencapai kemerdekaannya. Pada
tanggal 16 Agustus 1945 kegaduhan terjadi diluar rumah Sukarno, para pemuda
yang sudah “membawa” Moh. Hatta dan Soetan Sjahrir berteriak-teriak memanggil nama
Sukarno.
Peristiwa
ini dikemudian hari kita kenal dengan nama peristiwa Rengasdengklok. Peristiwa
ini adalah salah satu momentum kemerdekaan Indonesia. Bendera yang sudah dijahit
tangan oleh Fatmawati diserahkan untuk kemudian dikibarkan oleh para pemuda di
Rengasdengklok sebagai persiapan proklamasi kemerdekaan Indonesia keesokan harinya.
Setelah
kemerdekaan Indonesia, ternyata kehidupan Fatmawati sebagai Ibu Negara masih jauh
dari kata tenang. Agresi Militer Belanda datang lagi, Fatmawati yang di Yogyakarta
harus berpisah dengan Sukarno yang diasingkan di Pulau Bangka. Disaat itulah
Fatmawati melahirkan putri pertamanya, Megawati Sukarno Putri yang di kemudian
hari akan kita kenal sebagai Presiden Indonesia yang keempat. Setelah kelahiran
Megawati, beliau dikarunia berturut-turut dua putri lagi yaitu, Rachmawati dan
Sukmawati. Baru setelah itu pada tahun 1952, anak bungsu Sukarno dan Fatmawati
lahir yang diberi nama Guruh Sukarno Putra. Setelah kelahiran Guruh ini
hubungan Fatmawati dan Sukarno bagai terjun ke jurang. Sukarno yang saat itu jatuh
hati terhadap Hartini ditolak permintaannya untuk menikah lagi oleh Fatmawati. Meskipun
akhirnya Fatmawati bersedia untuk mengijinkan Sukarno menikah lagi dengan Hartini,
Fatmawati memilih untuk keluar dari Istana Negara meskipun anak-anaknya tetap hidup
di Istana.
Hartini
“Tien, I can’t work without you.
Meski kamu
istri kedua (setelah Fatmawati),
kamu tetap
istri saya yang sah. Biarpun kamu
tidak
tinggal di Istana Negara, kamu
tetap mejadi
ratu. Kamu akan menjadi ratu yang
tidak
bermahkota di Istana Bogor.”
Tahun
1953 di kota sejuk Salatiga, Sukarno yang sedang melakukan kunjungan ke Jawa Tengah
dan DIY (Daerah Istimewa Yogyakarta) singgah di kota kecil nan sejuk, Salatiga yang
terletak dikaki gunung Merbabu. Disana ternyata sang Presiden bertemu dengan wanita
yang kelak akan mengisi hari-harinya. Hartini, itulah nama wanita yang membuat Sukarno
kepincut.
Cintanya
bersemi ketika penjamuan makan. Dan bung karno dihidangkan sayur lodeh yang
merupakan buatan hartini. Bung karno adalah pecinta sayur lodeh. Mendapati sayur
lodeh yang dimakan sangatlah lezat. Maka bung karno bertanya siapakah pembuat
sayur lodeh ini. Kemudian hartini menemui sang presiden. Dan dari situlah
berawal hubungan mereka yang akhirnya bung karno mempersunting hartini menjadi
istri keduanya.
Hartini
lebih banyak berkecimpung dipolitik dibandingkan dengan fatmawati. Namun,
popularitas bung karno pudar ketika kejadian G30SPKI. Yang dimana bung karno
lengser setelah lima bulan kejadian tersebut kemudian digantikan oleh pak
harto. Meskipun pada waktu itu Sukarno sudah menikah beberapa kali lagi,
Hartini tetap teguh untuk menemani Bung Karno hingga akhir hayatnya.
RATNA
SARI DEWI
“Aku mempunyai seorang istri,
yang aku cintai
dengan segenap jiwaku. Namanya
Ratna Sari
Dewi.”
Nemoto
Naoko, adalah nama asli gadis Negeri Sakura ini. Dia pertama kali bertemu
dengan Sukarno ketika Sukarno melakukan kunjungan ke Jepang dan sedang melepas
lelah di kawasan Akasaka. Dewi pertama kali dikenalkan oleh salah satu kolega Sukarno
dari Jepang, Kubo Masao. Nemoto Naoko yang pandai dalam menyanyi dan menari pun
langsung memicu ketertarikan Sukarno yang mencintai dunia seni. Setelah pertemuan
itu, Sukarno dan Nemoto sering berkirim surat melalui kedutaan besar Indonesia di
Tokyo. Puncaknya pada tanggal 18 Agustus 1959, Presiden Sukarno berkirim surat
yang berbeda dari biasanya, pada kesempatan kali ini Presiden Sukarno
mengundang Nemoto untuk datang dan berlibur ke Indonesia. Kurang dari satu
bulan setelah diterimanya surat itu, Nemoto datang ke Indonesia dengan menyamar
sebagai salah satu karyawan perusahaan Tonichi milik Kubo Masao.
Selama
di Indonesia, Sukarno secara pribadi sering mengajak Nemoto untuk berjalan- jalan.
Setelah menjalin hubungan beberapa waktu, Sukarno pun akhirnya melamar Nemoto
untuk menjadi istrinya. Waktu itu Sukarno sudah memiliki tiga orang istri,
yakni Fatmawati, Hartini dan Yurike. Hal itu membuat kebimbangan dihati Nemoto,
tetapi pada akhirnya Sukarno mampu meyakinkan Nemoto untuk menikahinya. Mereka berdua
menikah pada tanggal 3 Maret 1962 dengan upacara yang berlangsung sederhana dan
dengan mas kawin sebesar Rp. 5,-. Seteleh menikah dengan Sukarno, nama Nemoto pun
diubah menjadi Ratna Sari Dewi.
Haryati
Masa ora aku seneng! Lha wong
sing mundhut
wanodja palenging atiku kok! Adja
maneh
sakados alrodji, lha mbok apa apa
ja bakal
tak wenehke”
Kecintaan Sukarno yang begitu mendalam terhadap seni mengalir deras
dari darah ibunya, Ida Ayu Nyoman Rai, yang merupakan orang bali. Passion yang mendalam terhadap seni
membuat Sukarno banyak mengoleksi karya seni dan mengagumi tarian dan lagu-lagu.
Oleh karena itu, tidak heran koleksi seni Istana berjumlah paling besar ketika Sukarno
masih berkuasa. Banyak penari, pelukis maupun pekerja seni lain yang sering
diundang Sukarno ke Istana untuk menghibur tamu negara atau dalam acara-acara
khusus.
Tapi ada satu cerita spesial diantara para pekerja seni Istana,
Haryati namanya. Haryati yang sebelumnya bekerja sebagai - penari istana
menarik perhatian sang Presiden dengan kecantikannya. Haryati yang waktu itu
sebetulnya sudah menjadi kekasih orang lain tak kuasa untuk melawan rayuan- rayuan
maut yang diucapkan oleh Sukarno. Keduanya pun akhirnya menikah pada tahun 1963
saat-saat dimana kekuasaan Sukarno sudah mulai pudar.
Perkawinan keduanya tidak bisa bertahan lama karena sudah tidak ada
kecocokan antara mereka berdua. Tanpa dikaruniai anak, akhirnya 3 tahun
berselang semenjak pernikahan mereka Sukarno memutuskan untuk menceraikan Haryati.
Perkawinan Haryati dengan Sukarno jarang terekspos oleh media, tapi sewaktu Irian
Barat (sekarang Papua-red) kembali ke pangkuan Ibu Pertiwi, Haryati lah yang
dibawa Sukarno untuk menemani kunjungannya ke sana.
Kartini
Manopo
“Aku mencintai kamu, aku ingin
kau
membalas cintaku….sekarang juga
saya minta
kepastian darimu ya atau tidak”
Basuki Abdullah, salah satu maestro lukis Indonesia, merupakan salah
satu pelukis kesayangan Bung Karno. Banyak karya-karyanya menghiasi
dinding-dinding Istana Negara. Dari lukisan Basuki Abdullah juga Bung Karno pertama
kali bertemu seorang wanita bernama Kartini Manoppo. Kartini Manoppo sebetulnya
berprofesi sebagai pramugari di maskapai penerbangan Indonesia, yakni Garuda Indonesia.
Semenjak saat itu, setiap kali Sukarno melawat ke luar negeri, Kartini pasti ikut
serta dalam rombongan kepresidenan. Kartini yang terlahir dari keluarga
bangsawan Bolaang Mongondow, menutup rapat-rapat pernikahannya dengan Sukarno,
jadi tidak banyak yang bisa diketahui dari pernikahan keduanya. Dari pernikahan
ini, Sukarno dikarunai seorang putra bernama Totok Suryawan Sukarno, yang lahir
di Jerman.
Yurike
Sanger
“Yury,I came to you today,but
were out. I came
only to say “I love you”
Yours,
Sukarno”
Awal
mula kisah percintaan Sukarno dan Yurike dimulai ketika sekolah Yurike Sanger kedatangan
seorang artis bernama Dahlia. Dahlia sedang mencari anggota untuk Barisan Bhinneka
Tunggal Ika, sebuah kelompok pelajar remaja yang akan mengenakan pakaian adat
dan tampil acara-acara kenegaraan. Yurike yang masih berstatus pelajar adalah
anggota termuda dari Barisan Bhinneka Tunggal Ika waktu itu. Yurike pertama kali
mengikuti acara kenegaraan di sebuah acara kepresidenan digelar di Istora.
Yurike yang memang memiliki paras yang ayu mengenakan kebaya ala Jawa di acara
tersebut. Ketika seluruh anggota Barisan Bhinneka Tunggal Ika tengah berbaris
rapi, Sukarno yang sedang berjalan di depannya tiba-tiba menghentikan
langkahnya tepat didepan Yurike.
Gadis
belia inipun kaget bukan kepalang karena sang presiden berdiri tepat
dihadapannya. Tanpa diduga sang Presiden malah menyempatkan diri untuk
mengobrol dengannya. Dari perkenalan singkat itu, Yurike tidak bisa
menyembunyikan kekagumannya pada sosok Sukarno yang memang berkharisma. Seiring
dengan intensitas kegiatannya di Barisan Bhinneka Tunggal Ika ini, semakin intens
pula pertemuan antara keduanya. Sukarno pun semakin tertarik kepada Yurike, mulai
dari sekadar menyuruh duduk didekatnya hingga memberikan kue kepada Yurike.
Suatu
ketika setelah acara resmi usai, Yurike yang sedang mengobrol dengan pegawai di
Istana tiba-tiba di panggil oleh Sukarno. Ternyata Yurike diajak makan malam
oleh Bung Karno. Ia diminta duduk dikursi sebelah Bung Karno yang sengaja
dikosongkan. Di kesempatan lain, Yurike ditawari untuk menggunakan mobil istana
untuk dijemput ketika Yurike mengikuti acara Barisan Bhinneka Tunggal Ika.
Mulai disaat itulah perasaan cinta mulai tumbuh di benak gadis muda ini. Perhatian
demi perhatian khusus yang diberikan Sukarno tak mampu dibendung gadis muda
ini, sampai-sampai pada suatu kesempatan Sukarno mengantarkan Yurike pulang ke
rumahnya secara pribadi.
Setelah
itupun hubungan keduanya menjadi semakin dekat. Pada suatu malam Sukarno mengajak
Yurike untuk bersantai di tepian pantai, di waktu itulah Sukarno pertama kali mengutarakan
rasa cintanya kepada Yurike. Setelah menjalin hubungan yang lebih dalam lagi
selama beberapa saat, Bung Karno yang saat itu usianya lebih dari setengah abad
pun akhirnya mengutarakan keinginannya untuk memperistri Yurike yang tatkala
itu masih duduk di bangku SMA. Yurike yang masih dilanda oleh kebingungan tak
bisa memberikan jawaban langsung kepada Bung Karno. Ia meminta waktu untuk
mendiskusikan masalah pernikahan ini kepada kedua orangtuanya terlebih dahulu.
Beberapa waktu kemudian, Bung Karno pun mengajak orangtua Yurike untuk makan
malam. Pada waktu itulah Bung Karno kembali mengutarakan keinginannya untuk
memperistri Yurike. Tentu saja hal ini membuat kedua orangtua Yurike terkejut.
Setelah beberapa saat merundingkan
lamaran
ini, akhirnya kedua orangtua Yurike pun menyetujui lamaran dari sang Presiden.
Raut muka sang presiden pun berubah dari yang sebelumnya tegang menjadi lega.
Hari-hari
yang dinanti pun akhirnya tiba, tanggal 6 Agustus 1964, Sukarno resmi menikahi Yurike
Sanger. Tapi hari-hari manis itu cepat berlalu. Karena saat-saat akhir
kekuasaan Sukarno di Indonesia sudah tiba. Pada tahun 1967, ketika Suharto
diangkat menjadi presiden kedua Republik Indonesia, Sukarno harus angkat kaki
dari istana yang selama puluhan tahun sudah menjadi tempat tinggalnya. Kemudian
Sukarno pun mulai jatuh sakit. Tidak ada lagi aliran keuangan untuk menggaji
pembantu-pembantunya. Sukarno pun menggugat cerai Yurike, karena ia takut kondisi
kesehatannya dan stabilitas negara pasca kepemimpinannya dapat memmberikan efek
buruk pada Yurike. Dengan berat hati, Yurike pun menyetujui permintaan tersebut.
Heldy
Djafar
“Dear dik Heldy,
I am sending you some dollars,
Miss Dior, Diorissimo, Diorama
of course also my love,
Mas”
Heldy
Djafar, gadis asal Kutai Kartanegara ini adalah wanita terakhir yang dinikahi oleh
Sukarno. Heldy menghabiskan masa kecilnya di Tenggarong, sebelum waktu SMP dia
dan sekeluarga pindah ke Samarinda karena perusahaan tempat ayahnya bekerja dinasionalisasikan
oleh pemerintah. Setelah Heldy tamat SMP, Heldy memutuskan untuk pindah ke
Jakarta dan tinggal bersama kakaknya, Erham. Pertemuan Heldy dengan Sukarno
ternyata tidak jauh berbeda dengan pertemuan Yurike dengan Sukarno. Heldy juga
didaulat untuk menjadi Barisan Bhinneka Tunggal Ika. Ketika itu istana sedang bersiap-bersiap
untuk menyambut tim Piala Thomas yang baru saja memenangi perlombaan yang
diadakan di Tokyo, Jepang.
Pertemuan
pertama Sukarno dan Heldy terjadi ketika Sukarno sedang menaiki anak tangga di
Istana. Waktu itu Sukarno menyempatkan diri untuk bercakap-cakap dengan Heldy sejenak.
Ternyata dari pertemuan itu Sukarno langsung merasa suka terhadap Heldy, maka
dalam beberapa pertemuan berikutnya Sukarno pun terkesan memberikan perhatian khusus
kepada Heldy.
Suatu
ketika rumah Erham, kakak Heldy di datangi oleh utusan istana untuk
menyampaikan bahwa presiden akan datang sebentar lagi. Erham yang terkejut pun
langsung menanyakan kepada Heldy perihal kedatangan Presiden. Heldy pun tak
tahu menahu mengenai permasalahan tersebut. Bung Karno hadir tanpa mengenakan
pakaian kebesarannya, hanya memakai kemeja lengan pendek, celana hitam dan
sandal jepit. Rupanya maksud kedatangan Sukarno waktu itu adalah untuk
menguraikan isi hatinya kepada Heldy, akan tetapi Heldy yang merasa dirinya masih
terlalu muda secara halus menolak hanya tersenyum dan memberikan Heldy hadiah,
yaitu sebuah jam tangan bermerek Rolex. Setelah itu Bung Karno pun mengajak Heldy
dan kakaknya makan diluar. Heldy satu mobil bersama Bung Karno sementara kakaknya
di mobil yang lain bersama ajudan Bung Karno. Di dalam mobil itu Bung Karno mengeluarkan
rayuan mautnya kepada Heldy.
“Dik,
kau tahu... Kau tidak pernah mencari aku, aku juga tidak mencari kau. Tapi
Allah sudah mempertemukan kita.” begitu ucap Bung Karno, Heldy yang tak bisa
berkata apaapa hanya terdiam didalam mobil.
Usia
Heldy ketika itu baru 18 tahun sementara Bung Karno sendiri sudah mencapai 64 tahun,
hampir setengah abad perbedaan usia mereka. Sejak pertama kali mengungapkan rasa
cintanya yang berujung dengan penolakan itu, Bung Karno tidak menyerah, tapi makin
giat dan semakin sering berkunjung ke rumah Heldy. Lama kelamaan hati Heldy pun
luluh dan menerima cinta Bung Karno. Heldy pun sering diajak Bung Karno untuk
bertemu koleganya seperti Dasaad, Chairul Saleh, J Leimena dan Soebandrio. Bung
Karno memang jago kalo dalam urusan memikat wanita, selain dari tutur katanya
yang lembut, Bung Karno juga sering memberikan hadiah-hadiah dari yang kecil seperti
mangga atau salak hingga minyak wangi dan perhiasan.
Akhirnya
pada tahun 1966 Heldy dinikahi oleh Bung Karno dan diberikan rumah di Kebayoran
Baru. Usia perkawinan mereka hanya bertahan sebentar. Hanya dua tahun. Gejolak
politik Indonesia semakin tidak menentu, Sukarno harus lengser dari tampuk kekuasannya
dan “diasingkan” di Wisma Yasso. Pada waktu itu Heldy sempat mengucap ingin
berpisah dari Bung Karno, tapi Bung Karno menolak walaupun pada akhirnya keduanyapun
berpisah. Setelah perpisahannya dengan Bung Karno Heldy menikah lagi dengan Gusti
Suriansyaah Noor, keturunan dari Kerajaan Banjar
Luar
biasa memang bung karno ini. Ane melihat ritme pernikahan beliau yang bisa
dikatakan sangat jarang terjadi. Ketika muda menikahi gadis belia. Ketika sudah
tua pun masih bisa menikahi gadis belia. Mungkin sampai disini saja ujung dari
tulisan ini. Kurang lebihnya mohon maaf jika tidak berkenan dengan topik yang
ane tulis kali ini. Namun, ini penting menjadi pelajaran buat kita semua bahwa
ada serpihan sejarah yang belum kita ketahui.
Sumber
tulisan ini ane ambil dari salah satu majalah sejarah online berjudul JAS MERAH
karya forum sejarah kaskus.co.id dengan sedikit perubahan.
Romantika Bung Karno
Reviewed by Riski Saputra
on
10:36:00 PM
Rating:
Reviewed by Riski Saputra
on
10:36:00 PM
Rating:









No comments:
Please Comment This Article