Satnite Story : Gurihnya Kelapa Tua



Panas sudah telinga ini mendengarkan kicauan burung Beo. Setiap pagi dan petang selalu berkicau tanpa ada yang melatihnya. Semua itu aku anggap sebagai tape rusak yang sedang memutar lagu pasaran berulang kali. Karena aku yakin bahwa jalan yang aku pilih ini benar.
Era ini berbeda dengan era dahulu. Era dimana setiap orang menuntut kebebasan. Era dimana bebas berekspresi dan beropini. Bukankah sudah ada undang – undang yang mengatur tentang kebebasan berpendapat. Lalu, kenapa masih ada saja sekumpulan beo yang berkicau di sekitar kita.
***
Pantopel hitam mengkilat, blazer abu – abu, rok mini yang selaras dengan blazer membaluti tubuh ku. Melangkah di keramaian kota, berburu kendaraan umum, lalu menikmati ritual ibu kota di pagi hari.
Sampai di sebuah instansi perusahaan ternama yang bergerak dibidang sumber daya manusia. Gedung yang sudah lama berdiri kokoh ini menjadi saksi bisu karir ku. Begitu banyak seleksi yang telah aku ikuti sehingga aku dapat menempati posisi sebagai manager di perusahaan ini.
Aku dikenal sangat ramah, pintar, dan sexy tentunya. Begitu banyak karyawan yang membicarakan aku ketika di kantin. Aku tahu dari kawan dekat, berbeda departemen. Memang penampilan ku ini sangat menggoda. Tidak sedikit, mereka mencuri perhatian dari ku. Namun, aku memang mengangap hal yang sewajarnya
***
“ Letih “ lirih ku
Memang akhir – akhir ini begitu banyak pekerjaan yang harus aku selesaikan. Kadang kala aku memutuskan untuk lembur. Inilah tuntutan sebagai seorang manager. Disetiap kesibukan ku, terselip kenikmatan alunan musik instumental yang memang menjadi handalan saat penat seperti ini.
Aku menikmati semua ini. Karena ini jalan yang aku pilih. Bukan jalan anda, kalian atau mereka. Tapi inilah jalan hidup ku. Akulah sang tokoh utama di kehidupan ku. Aku sempat berfikir di kesunyian ruang kerja ku. Kenapa aku memilih jalan ini ?
Jalan yang berbeda dari khalayak orang pada umumnya. Jalan yang ku nikmati tapi kurang disukai oleh keluarga. Jalan yang orang lain menganggap aku ini aneh. Entah apa yang ada dengan mereka. Tapi aku sudah memutuskan jalan ini. Akulah yang memilih untuk jadi seperti ini. Memang, itu sering menjadi pertanyaan – pertanyaan ku. Aku buang semua anggapan aneh itu. Karena aku tahu jalan yang aku pilih adalah benar
***
Pagi yang cerah dengan ditemani segelas cokelat panas mengisi waktu weekand ku. Menatap matahari yang mulai mengintip dari ufuk timur. Seakan dia membisikan sebuah berita baik di pagi hari ini.
Saat weekand inilah yang aku manfaatkan untuk beristirahat dari rutinitas kerja ku. Serta menenangkan diri realita kehidupan ini. Merbahkan diri diatas kasur busa yang lembut. Sambil menikmati alunan musik dari radio yang ku putar.
Tiba tiba, handphone ku bergetar. Tanda pesan masuk.
Hai, Apa kabar ka ? sudah lama tak jumpa. Kangen rasanya tak jumpa dengan kakak. Aku membawa berita gembira. Aku akan menikah dengan pria tampan yang satu jurusan aku kuliah dulu. Minggu depan aku akan melaksanakan resepsi pernikahaannya. Aku akan kirim undangannya ke email kakak. Kakak harus hadir yah, karena kakak sudah banyak membantu selama ini
Begitulah isi pesan dari teman satu kantor ku dulu. Ingat betul betul aku ketika dia pertama kali masuk kerja di perushaan ini. Dia pemalu, dan tertutup. Hanya masam saja yang terlukiskan di wajahnya. Aku memang tipe orang yang mudah bergaul, sehingga dia sedikit membuka diri dengan ku.
Banyak cerita yang kami ceritakan ketika kali petama bertemu. Yang paling sering dia ceritakan adalah masalah – masalah dengan pacarnya. Mungkin aku sudah dianggap kakak olehnya. Karena kita memang hampir memiliki hobi yang sama. Kemudian, kita juga senang dengan musik instrument dan masih banyak hal lainnya. Sehingga dia nyaman dengan ku, begitupun aku.
Handphone ku bergetar kembali. Kali ini adalah email darinya yang berisi sebuah undangan pernikahan. Aku lihat alamat gedungnya, yang sudah tidak asing dengan nama dan tempatnya. Tempat itu adalah tempat yang memang cocok untuk menjadi saksi cinta mereka. Tempat itu juga pernah aku kunjungi saat resepsi teman – teman ku.
***
Setelah dua hari menghabiskan waktu weekand. Kembali aku dengan rutinitas pekerjaan dan kemacatan ibu kota. Minggu depan aku harus menghadiri acara pernikahan teman lama ku itu. Aku pun berniat akan pergi ke suatu departement store yang menyediakan segudang model, warna, serta bahan untuk gaun yang aku kenakan nanti di pestanya.
Hari ini sungguh melelahkan. Karena harus menghadiri rapat dengan klain. Lalu, harus menyelesaikan berkas – berkas kantor. Dan masih banyak lainnya. Semua itu hilang ketika memasuki pintu departement store ini.
Mata ku dimajakan dengan berbagai model gaun yang modis dan anggun. Ada beragam warna, dan model yang di jajakan. Ingin rasanya aku membeli semuanya. Ada satu gaun yang menarik perhatian ku. Yaitu gaun merah berbahan spandek. Aku akan membelinya.
***
“ Cantiknya “ gumamku
Aku memang tak salah pilih gaun. Ketika aku memasuk gedung pernikahan teman lama ku. Semua mata tertuju pada ku. Seakan mereka ingin memakan ku. Ada pula yang terpana dengan penampilanku. Aku abaikan itu semua, tujuan ku sekarang adalah bertemu dengannya.
“ Selamat yah ! “
“ Terimakasih, kakak sudah menyempatkan hadir di acara pernikahan ku. Kakak sendiri aja. Suaminya mana ? “
“ Aku belum menikah “
“ Maaf kak, jika pertanyaan ku tadi menyinggung “
“ Tak apa, semoga langgeng yah “
Aku menikmati acara pernikahannya. Ada banyak hiburan serta makanan yang disajikan. Semua hadirin terlihat bahagia hari ini. Begitu pun aku, sampai – sampai semua kepenatan dan masalah di kantor lepas dari hingatan ku.
***
Semalam sungguh pesta yang menyenangkan. Aku dibuat buta olehnya. Ada satu pertanyaan kawan lama ku yang masih terngiang samapi sekarang. Dia menanyakan suami ku. Memang selama ini aku selalu disibukan oleh pekerjaan di kantor. Sehingga tidak pernah meluangkan waktu untuk mencari pasangan hidup. Aku pun tak habis pikir apa yang sudah aku lakukan sehingga aku melupakan sesosok suami. Apa aku wanita yang tidak normal. Aku pikir aku tidak lesbi. Dan aku masih suka dengan karyawan – karyawan ku yang tampan dengan tatapan liarnya.
Di apartement ini aku termenung dengan satu pertanyaan yang terus terngiang di kepala ku ini. Kemudian aku lihat kaleder yang berada di atas meja kecil di samping tempat tidur ku. Melihat dan bertanya sudah berapa umur ku. Apakah ada yang masih menikah dengan ku. Tidak mungkin aku menikahi berondong. Aku pun tak ingin menikahi duda. Pria seumur atau yang sedikit selisih umur dengan ku pasti sudah memiliki istri.
***
Apa benar dengan gosip kutukan perawan tua yang setiap pagi dan petang selalu dibicarakan oleh ibu – ibu tetangga dengan niat menyindirku. Pikiran ku berkecamuk. Aku tidak fokus dengan pekerjaan. Berulang kali telepon berbunyi tetapi aku tidak mengangkatnya. Sampai sekretarisku masuk keruangan ku pun aku tak menyadarinya. Aku tersadar ketika dia menatap mata ku yang kosong. Kaget aku dibuatnya.
“ Ibu ada masalah ? “
“ Bukan masalah yang besar. Ada apa ? “
“ Siang ini kita ada rapat dengan klain bu di tempat biasa “
“ Terimakasih. “
Sekretaris ku pun berlalu ke meja kerjanya. Aneh sekali, ada apa sebenarnya di pikiran ku. Sampai telepon berdering berkali – kali tak terdengar oleh ku. Lalu, sekretarisku masuk pun aku tak menyadarinya.
***
Ruang rapat sudah di penuhi oleh orang – orang yang terlibat dalam proyek ini. Aku adalah salah satunya diantaranya. Proyek ini memang sangat membutuhkan kerja sama di antara perusahaan besar lainya. Bukan itu yang menjadi permasalahannya. Aku melihat sesosok pangeran ikut hadir dalam rapat ini. Sosok dia mengalihkan ku dalam rapat ini.
Seorang pria dewasa yang aku taksir usianya tidak jauh dari ku. Wajahnya tidak terlalu tua, dengan ditumbuhi bulu jambang. Jambang – jambang itu yang membuat dia terlihat lebih gagah. Lalu senyumannya yang mencairkan suasana rapat yang hampir panas ini. Pemikiran yang cerdas atas solusi dari setiap masalah. Aku jatuh hati padanya.
***
Malam ini menjadi malam tergalau ku. Betapa tidak, kemarin – kemarin hampir pecah kepala ku akibat asumsi negatif atas pertanyaan di pesta pernikahan kemarin. Sepanjang siang aku pun banyak menghabiskan waktu untuk melamun. Dan ketika rapat seakan – akan tuhan melepaskan kutukan perawan tua. Kutukan yang sebenarnya tidak ada tetapi ini akibat opini ibu – ibu gosip. Entah sejak kapan aku percaya akan gosip.
Aku ketahui bahwa dia ternyata adalah asisten manager di departement lain. Aku mengetahuinya dari informasi sekretaris ku. Aku pun mendapatkan banyak informasi tentang dia. Aku akan melakukan pendekatan dengannya.
***
Sudah seminggu kami melakukan komunikasi. Sudah satu kali pula kami memutuskan untuk makan malam. Sudah berkali – kali aku coba untuk memancing perasaannya. Apa daya, dia tetap tak tersentuh. Mungkin aku harus mencari cara lain.
***
Karena kesibukan kita dalam mega proyek ini. Maka kami jarang sekali berkomunikasi apalagi untuk makan bersama. Anehnya, aku pun selalu mendapatkan kiriman barang. Sekretaris ku pun tidak tahu dari siapa barang tersebut. Karena barang – barang ini sudah ada sebelum kami datang.
Mungkin ini barang dari dia. Sunggu pria yang sangat romantis. Tidak sempat bicara, diwakilkan dengan barang – barang ini. Entah aku sangat bingung mengungkapkannya bagaimana. Tapi aku sangat senang dengan semeua pemberian ini. Aku merasakan bahwa usaha pendekatan ku mulai berhasil.
***
Terima Kasih atas semua barang – barangnya. Aku gak menyangka bahwa kamu orangnya romantis. Ada waktu gak buat makan siang ? Aku tunggu di tempat biasa.
Begitulah isi dari sms ku.
OK
Hanya itu jawaban darinya. Yang terpenting adalah dia bisa makan siang bersama ku.
***
Aku sudah memesan makan favorit ku di kantin ini. Begitu juga dia. Aku menceritakan begitu banyak kesibukan di kantor. Dan aku mengatakan bahwa senang dengan pemberian barangnya. Perhatiannya membuat kesibukan ku sedikit lebih menyenangkan.
Anehnya, wajah yang terlukis adalah kebingungan. Dengan penuh tanda tanya besar . dia mengatakan bahwa tidak pernah memberikan apapun kepada ku. Karena dia sedang memang sibuk untuk proyek perusahaan ini.
Dia juga menyampaikan terima kasih serta permohonan maaf atas kesalahannya. Dia mengeluarkan sesuatu dari tasnya yang aku lihat tertulis kata “ U N D A N G A N “. Itu artinya dia akan menikah.
Rapuh diriku saat mendengar semua itu. Hilang semua harapan – harapan ku. Aku mulai membenarkan gosip tentang perawan tua. Ibu – ibu gosip itu menyatakan kutukan perawan tua itu akan terus menggalkan impian seorang perawan tua untuk menikah.
Ketika makanan ku sudah habis. Aku pamit terlebih dahulu, dengan alasan masih ada pekerjaan yang harus segera diselesaikan.
***
Hanya isak tangis menyelimuti tubuh ini di ruang kerja ku. Aku pun berpesan untuk tidak diganggu oleh siapa pun. Sepanjang hari aku menangis menyesali tindakan ku. Di sisi lain aku bingung siapa sebenarnya yang selama ini rutin mengirimi ku berbagai barang ini.
Aku akan mencari tahu siapa dibalik ini semua. Maka dari itu besok malam aku akan tidur di kantor untuk memastikan siapa yang telah diam – diam menjadi penggemarku. Ada banyak sekali barang – barang yang diberikannya. Dan semua itu adalah memang kesukaan ku. Kemudian disetiap barang di lampirkan secarik kertas berisi beberapa bait puisi.
***
Jam kantor sudah menunjukan pukul 7 pagi tapi tidak ada tanda – tanda. Apakah dia mengetahui bahwa aku telah menunggu disini untuk menyelidikinya. Tapi tunggu dulu, tiba – tiba ada sebuah suara pintu terbuka. Dan langkah kaki masuk kedalam. Tidak lama kemudian aku muncul dan menghidupkan lampu serta menutup pintu.
Aku kaget bukan kepalang, begitu pun dia. Ternyata dia adalah karyawan yang baru – baru ini masuk dan dibawah tanggung jawab ku. aku menyakan untuk apa semua ini dia lakukan. Ternyata dia diam – diam telah mencintaiku. Aku tanyakan kepada di kenapa bisa mencintai wanita yang lebih tua. Karena aku lihat penampilan dia sangat modis, lalu dari wajahnya jauh lebih muda.
Dia memastikan dengan menunjukkan kartu identitasnya dengan bangganya memastikan bahwa kita seumuran. Aku pun tak menyangka bagaimana bisa dia menyintai ku. Dia pun mengajak aku untuk menikah.
Memang aksi yang dilakukan sangat nekat. Karena posisi pekerjaan ku, kemudian kewenangan ku bisa membuatnya dikeluarkan dari pekerjaannya. Aku menghargai usaha dan pengorbanannya. Aku mengatakan akan mempertimbangkannya dahulu. Karena aku belum mengenalnya.
***
5 tahun berikutnya
Kehidupan ku berubah dan aku sudah tidak lagi bekerja sebagai manager di perusahaan itu. Aku saat ini sedang sibuk menumbuh kembangkan sumber daya manusia di rumah. Yang tidak lain adalah anak kami.
Aku memutuskan untuk menerima tawarannya dengan berbagai pertimbangan. Memang benar tidak ada kutukan perawan tua. Jika kita sedikit lebih peduli dan lebih terbuka dengan lawan jenis. Maka semua kutukan perawan tua itu tidak akan mengenai kalian. Karena memang pada hakikatnya tidak ada di dunia ini yang tidak berpasangan.
--- TAMAT ---
Satnite Story : Gurihnya Kelapa Tua Satnite Story : Gurihnya Kelapa Tua Reviewed by Riski Saputra on 7:08:00 PM Rating: 5

1 comment:

  1. ane baca sampe abis.... KEREN
    jalan cerita nya kompleks. sulit di tebak. ane kira dia bakal nikah sama cowo yang di ajak makan ke kantin. hahahaha

    ReplyDelete

Please Comment This Article

Powered by Blogger.